1. 5 months ago 

    Perasaan lega lepas debrief kompre MODP XXV. AlhamduliLlaah.. Formasi lengkap tim Kelapa Gading aka KaHeDe. Poppy, Vita, Tya, Dymas, Niko & ane. :’)

  2. 6 months ago 

    Kunjungan Anis Matta ke Palu. 6 Oktober 2013. Cinta, Kerja, Harmoni.

  3. Notes: 4 / 1 year ago 
    D-15. Countdown to Ramadhan.

    D-15. Countdown to Ramadhan.

     
  4. 1 year ago 
    D-24. Countdown to Ramadhan. 

    D-24. Countdown to Ramadhan. 

     
  5. Notes: 4 / 1 year ago 
    D-25. Countdown to Ramadhan

    D-25. Countdown to Ramadhan

     
  6. Notes: 25 / 1 year ago 
    D-26. Countdown to Ramadhan.

    D-26. Countdown to Ramadhan.

     
  7. Notes: 4 / 1 year ago 
    D-27. Countdown to Ramadhan.

    D-27. Countdown to Ramadhan.

     
  8. Notes: 3 / 1 year ago  from sukmadien

    "Bukti Cinta" (Dedicated to MODP 25)

    sukmadien:

    image

    Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.”

    (HR. Al Bukhari)

     “Lho, kok kita dapet hadiah lagi, Mas?” Tanya ku pada suami. Seneng, haru, dan rasa tak percaya menyertai pertanyaanku itu. Ini kali ketiga kami mendapat hadiah dari teman-teman MODP 25, pasca pernikahan kami.

    Yang pertama, dihantarkan langsung sekaligus kunjungan silahturahim ke kosan kami. Kunjungan yang menurutku adalah kunjungan penyambutanku karena tepat dua hari setelah kedatanganku untuk membersamai sang suami di “tanah perjuangan” ini. Kehangatan dan nuansa kekeluargaan kurasakan alirannya dari wajah saudara-saudara baruku itu. Tulus. Dan efek terbaiknya untukku, aku merasa diterima dan dikuatkan untuk bertahan di tempat asing, kota orang. Padahal  berkelebat ketakutan (sedikit) dan kekhawatiran bahwa aku tak mampu beradaptasi di tempat baru ini.

    Yang kedua, tiba-tiba saja saat suami pulang dari tempat pendidikannya, Ia menghampiriku yang hari itu sedang mempersiapkan makan malam di dapur. Kuhentikan aktivitasku, selain karena ingin menyambutnya, juga penasaran apa gerangan yang dibawanya dengan kemasan cantik itu. “Ini hadiah, kata temen-temen Mas hadiah ulang tahun Mas kemarin?” ujar suamiku. Saat kami buka, senyumku terkembang. Subhanallah… Cantik… Kami pun berpandangan sambil senyum-senyum (ndak jelas). “Mas pakai yang ini, adek pakai yang ini ya.” kata suami sambil memilah benda cantik itu menjadi dua bagian terpisah. Setelah itu, si benda cantik terus kami pakai; mengiringi sore dan pagi hari kebersamaan kami. (Tebak benda cantik apakah gerangan tersebut di atas?) ;-)

    Dan terakhir, kemarin sore. Hari bertepatan 1 bulan pernikahan kami. 17 April 2013. “Dek, kita dapet hadiah lagi dari temen-temen.” sambil membuka tasnya, suamiku menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado yang bertabur ‘cinta’. Panas mata ini membaca ucapan yang tertulis rapi di dalam kotak kado yang telah kami buka bersama. Allahu… Ini bukan sekedar hadiah, tapi bukti cinta saudara kepada saudaranya. Luruh sudah pertahananku. Inilah ukhuwah Islamiyah yang Allah janjikan itu. Indah. Sungguh indah. Belumlah kumengenal satu-persatu dari kalian, tapi telah kurasakan keindahan persaudaraan yang ditawarkan. 

    Sedih hati ini saat bertubi-tubi perpisahan dengan saudara, sahabat, dan kerabat di Lampung sebelum keberangkatanku kesini. Rasanya ukhuwah itu seperti akan tercerabut dari diriku karena jarak yang terbentang. Tak pernah sebelumnya kutinggalkan tanah kelahiran dalam waktu yang lama. Pun bayangan perjuangan membangun ukhuwah baru sepertinya akan sangat berat. “Kami hanya berdua, apa yang bisa dilakukan dua orang asing di tempat baru?” pikirku saat itu. Tapi tidak, segala puji bagi Allah yang telah mengirimkan saudara-saudara  yang baik bagi kami. Kalian.

     

    Jazakumullah Khairan Katsir.

     

    -Hanya Allah saja yang mampu membalas dengan kebaikan yang lebih pantas-

     

    With Love

    Tomy-Diny

    Jazakumullah khayran katsir.. :’)

  9. Notes: 2 / 1 year ago 
    29 Maret 2013, dua belas hari sudah aku menjadi seorang suami. Selama dua belas hari itu baru tiga hari saja aku beserta istri menghabiskan waktu bersama, berdua. Taaruf lagi, memulai semua perkenalan dari awal sekali. Memulai semua rangkaian pernikahan dengan mengagungkan Allah, memohon ridho dariNya.
Mitsaqan ghalizha, perjanjian yang berat. Ya, pernikahan adalah satu dari tiga urusan yang disebutkan dalam Al Quran sebagai perjanjian yang berat. Dua sisanya adalah tentang tauhid. Dan memang benar, menikah itu artinya mengikat diri dalam perjanjian yang tanggungjawabnya langsung ke Allah. Pertanggungjawaban mengenai istri, anak, harta yang dikelola di dalamnya, ilmu yang diajarkan kepada mereka, teguran-teguran yang mengingatkan mereka, ah semuanya.
Tanggung jawab itu, bahwa setiap perbuatan dosa sang istri, maka suami yang akan menanggungnya. Menyadari besarnya tanggung jawab yang akan aku tanggung, tepat setelah akad diucapkan dan para saksi menyatakan sahnya pernikahan kami, bercucuran air mataku hingga membasahi jenggot. Menunduk terisak.
Sungguh itu adalah amanah yang berat bagiku. Seorang pemuda lajang diamanahi untuk memperlakukan seorang wanita shalihah dengan sebaik-baiknya, dengan penuh cinta dan kasih sayang.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." Ar Rum [30]: 21

Ya, aku mengazzamkan diri untuk mencintai dan menyayangi serta memperlakukan istri dengan ma’ruf sesuai apa yang telah Allah perintahkan kepada setiap suami.

"…Dan pergaulilah mereka dengan cara yang ma’ruf (baik). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." An Nisā’ [4]: 19

Telah aku rasakan cinta dan kasih sayang dalam hatiku kepada istriku yang shalihah insyaaLlah. Selalu senyum kusunggingkan setiap kali mengingat dirinya, wanita baik-baik yang telah mengikat diri menjadi istri bagiku. Selalu gemuruh debar-debar dalam dada menggebu setiap kali bercanda mesra dengannnya. Wallahi, ini adalah fitrah manusia. Dan ini adalah bentuk pengelolaanku atas fitrah tersebut, menjaganya dalam kesucian dan justru bukan mengumbarnya. Semoga Allah memberkahi, meridhoi.
Lalu aku sampaikan pada Rabbku, sang pembolak-balik hati manusia, agar mengukuhkan kecintaan kami sebagaimana kami meminta kepadaNya untuk memberikan keteguhan atas keimanan dalam hati. Karena mencintai seseorang tanpa melibatkan sang penanam cinta dalam hati sejak dini adalah merugi. Mengaku mencintai tapi mengingkari Allah yang menumbuhkan rasa cinta, kami ingin menghindarinya. Maka kami berdoa agar kecintaan kami karenaNya, dan ketidaksukaan kami pula karenaNya. Lillahita’ala.
Kemudian aku teringat sebuah ayat yang membuatku kembali tersadar untuk terus menjaga hati, memelihara kecintaan ini hanya karenaNya.

"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi." Al Munafiqun [63]: 9

Astaghfirullah.. Ayat ini yang kembali mengingatkanku untuk terus meluruskan niatku. Bahwa semua ini adalah atas kehendak Allah, atas rahmat dan kasih sayangNya, atas kuasaNya. Maka sudah sepantasnyalah di dalam hati ditanam dalam-dalam untuk tidak melalaikan diri dari mengingat Allah, dibuktikan dengan perbuatan dan disampaikan dengan lisan. Karena aku ingin pernikahan ini barokah, mendapat ridhoNya. Ini yang pertama-tama aku tanamkan ketika mengawali pertanyaan, “Mbak Diny sudah berkeluarga atau belum?” September tahun lalu.
Sungguh aku tidak ingin pernikahan ini justru melalaikan, menjauhkan kami dari Allah. Wallahi! Aku tidak ingin yang demikian. Semoga Allah mengabulkan dan menjaga kami dari kelalaian yang merugikan. Saksikanlah yaa Rabb..
Maka biarlah taujih ini aku tutup dengan mengingatkan kepada kita sebagai setiap individu, bukan hanya bagi suami, tetapi juga istri dan seluruh anggota keluarga.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” At Tahrim [66]: 6

Semoga Allah mengampuni kita dari kelalaian yang merugikan dan memaafkan segala kekhilafan. Aamiin yaa Mujiib..

    29 Maret 2013, dua belas hari sudah aku menjadi seorang suami. Selama dua belas hari itu baru tiga hari saja aku beserta istri menghabiskan waktu bersama, berdua. Taaruf lagi, memulai semua perkenalan dari awal sekali. Memulai semua rangkaian pernikahan dengan mengagungkan Allah, memohon ridho dariNya.

    Mitsaqan ghalizha, perjanjian yang berat. Ya, pernikahan adalah satu dari tiga urusan yang disebutkan dalam Al Quran sebagai perjanjian yang berat. Dua sisanya adalah tentang tauhid. Dan memang benar, menikah itu artinya mengikat diri dalam perjanjian yang tanggungjawabnya langsung ke Allah. Pertanggungjawaban mengenai istri, anak, harta yang dikelola di dalamnya, ilmu yang diajarkan kepada mereka, teguran-teguran yang mengingatkan mereka, ah semuanya.

    Tanggung jawab itu, bahwa setiap perbuatan dosa sang istri, maka suami yang akan menanggungnya. Menyadari besarnya tanggung jawab yang akan aku tanggung, tepat setelah akad diucapkan dan para saksi menyatakan sahnya pernikahan kami, bercucuran air mataku hingga membasahi jenggot. Menunduk terisak.

    Sungguh itu adalah amanah yang berat bagiku. Seorang pemuda lajang diamanahi untuk memperlakukan seorang wanita shalihah dengan sebaik-baiknya, dengan penuh cinta dan kasih sayang.

    "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." Ar Rum [30]: 21

    Ya, aku mengazzamkan diri untuk mencintai dan menyayangi serta memperlakukan istri dengan ma’ruf sesuai apa yang telah Allah perintahkan kepada setiap suami.

    "…Dan pergaulilah mereka dengan cara yang ma’ruf (baik). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." An Nisā’ [4]: 19

    Telah aku rasakan cinta dan kasih sayang dalam hatiku kepada istriku yang shalihah insyaaLlah. Selalu senyum kusunggingkan setiap kali mengingat dirinya, wanita baik-baik yang telah mengikat diri menjadi istri bagiku. Selalu gemuruh debar-debar dalam dada menggebu setiap kali bercanda mesra dengannnya. Wallahi, ini adalah fitrah manusia. Dan ini adalah bentuk pengelolaanku atas fitrah tersebut, menjaganya dalam kesucian dan justru bukan mengumbarnya. Semoga Allah memberkahi, meridhoi.

    Lalu aku sampaikan pada Rabbku, sang pembolak-balik hati manusia, agar mengukuhkan kecintaan kami sebagaimana kami meminta kepadaNya untuk memberikan keteguhan atas keimanan dalam hati. Karena mencintai seseorang tanpa melibatkan sang penanam cinta dalam hati sejak dini adalah merugi. Mengaku mencintai tapi mengingkari Allah yang menumbuhkan rasa cinta, kami ingin menghindarinya. Maka kami berdoa agar kecintaan kami karenaNya, dan ketidaksukaan kami pula karenaNya. Lillahita’ala.

    Kemudian aku teringat sebuah ayat yang membuatku kembali tersadar untuk terus menjaga hati, memelihara kecintaan ini hanya karenaNya.

    "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi." Al Munafiqun [63]: 9

    Astaghfirullah.. Ayat ini yang kembali mengingatkanku untuk terus meluruskan niatku. Bahwa semua ini adalah atas kehendak Allah, atas rahmat dan kasih sayangNya, atas kuasaNya. Maka sudah sepantasnyalah di dalam hati ditanam dalam-dalam untuk tidak melalaikan diri dari mengingat Allah, dibuktikan dengan perbuatan dan disampaikan dengan lisan. Karena aku ingin pernikahan ini barokah, mendapat ridhoNya. Ini yang pertama-tama aku tanamkan ketika mengawali pertanyaan, “Mbak Diny sudah berkeluarga atau belum?” September tahun lalu.

    Sungguh aku tidak ingin pernikahan ini justru melalaikan, menjauhkan kami dari Allah. Wallahi! Aku tidak ingin yang demikian. Semoga Allah mengabulkan dan menjaga kami dari kelalaian yang merugikan. Saksikanlah yaa Rabb..

    Maka biarlah taujih ini aku tutup dengan mengingatkan kepada kita sebagai setiap individu, bukan hanya bagi suami, tetapi juga istri dan seluruh anggota keluarga.

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” At Tahrim [66]: 6

    Semoga Allah mengampuni kita dari kelalaian yang merugikan dan memaafkan segala kekhilafan. Aamiin yaa Mujiib..

     
  10. 1 year ago 

    Dua Pekan

    Hari ini, 3 Maret 2013. Tepat dua pekan sebelum akad nikahku diucapkan. Mungkin sudah wajar kalau calon pengantin merasakan debaran-debaran kencang ketika waktu bergerak makin mendekat hari-H. Tapi aku baru merasakannya sekarang, tepat dua pekan sebelum beskap putih itu aku kenakan. Kemarin-kemarin ketika beberapa teman sudah mulai menanyaiku bagaimana perasaanku, aku hanya jawab dengan tenang, “InsyaaLlah dilancarkan, dimudahkan..” Tapi kini, debam ketukan jantung mulai bergemuruh kencang. Ketukannya tidak lagi 1-2, 1-2, tapi sudah 3-4, 3-4 mungkin. :)

    Sebelumnya debaran jantung ini mengencang setiap kali ingat debrief OJT Financing yang jadwalnya hanya terpaut tiga hari sebelum akad. Setiap kali ingat itu aku langsung beringsut membuka buku atau laptop, berharap ikhtiarku cukup untuk mengantarkanku mencapai titik ‘pantas’ dengan doa-doa yang senantiasa kulantunkan. Ya, pemantasan diri. Lulus, aku harus lulus debrief! Aku bisa! Itu yang kuulang-ulang untuk memantapkan.

    Debaran jantungku memompa darah dengan cepat ketika pagi tadi seorang teman bertanya-tanya tentang proses yang kami jalani. Terlebih lagi setelah itu ia menceritakan cerita di balik layar yang makin membuat pompaan darah dari jantung bergerak cepat. Kuucap tahmid dan takbir berkali-kali. Sungguh skenario Allah luar biasa. Jika Allah sudah berkehendak, tiada satupun yang kuasa merubahnya. Allahu akbar! :’)

     

    Jakarta, March 3, 2013.
    Bumi Allah dengan keceriaan membuncah.

  11. Notes: 22 / 1 year ago 
    “Marriage in Islam - What’s hers is hers, and what’s yours is hers. So, tell me again, how Islam gives women no rights?”
Meme of Willy Wonka for Islam quotation. :)

    Marriage in Islam - What’s hers is hers, and what’s yours is hers. So, tell me again, how Islam gives women no rights?


    Meme of Willy Wonka for Islam quotation. :)

     
  12. 1 year ago 

    Nyobain app baru. Dan kantor tetiba rame dengan berfoto ria. :D

  13. Notes: 1 / 1 year ago 

    Muhasabah

    Yang kukhawatirkan adalah kelalain untuk beristighfar karena ramainya pujian dan sedikitnya teguran. Sungguh, berjamaah itu tentang saling mengingatkan. Tak jarang aku temui diriku tersenyum bangga karena pujian dan bersedih karena cacian. Padahal mungkin pujian itu melampaui & melebih-lebihkan. Dan tak sepatutnya diri merasa sedih karena dicela. Karena bisa jadi celaan-celaan itu masih jauh lebih baik daripada aib sendiri yang tersimpan rapi.

  14. Notes: 10 / 1 year ago 
    Should be like this!

    Should be like this!

     
  15. Notes: 16 / 1 year ago 

    Science, Faith and God: in Islamic Point of View.

    Professor : You are a Muslim, aren’t you, son ?
    Student : Yes, sir.
    Professor: So, you believe in GOD ?
    Student : Absolutely, sir.
    Professor : Is GOD good ?
    Student : Sure.
    Professor: Is GOD all powerful ?
    Student : Yes.
    Professor: My brother died of cancer even though he prayed to GOD to heal him. Most of us would attempt to help others who are ill. But GOD didn’t. How is this GOD good then? Hmm?
    (Student was silent.)
    Professor: You can’t answer, can you ? Let’s start again, young fella. Is GOD good?
    Student : Yes.
    Professor: Is satan good ?
    Student : No.
    Professor: Where does satan come from ?
    Student : From … GOD …
    Professor: That’s right. Tell me son, is there evil in this world?
    Student : Yes.
    Professor: Evil is everywhere, isn’t it ? And GOD did make everything. Correct?
    Student : Yes.
    Professor: So who created evil ?
    (Student did not answer.)
    Professor: Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?
    Student : Yes, sir.
    Professor: So, who created them ?
    (Student had no answer.)
    Professor: Science says you have 5 Senses you use to identify and observe the world around you. Tell me, son, have you ever seen GOD?
    Student : No, sir.
    Professor: Tell us if you have ever heard your GOD?
    Student : No , sir.
    Professor: Have you ever felt your GOD, tasted your GOD, smelt your GOD? Have you ever had any sensory perception of GOD for that matter?
    Student : No, sir. I’m afraid I haven’t.
    Professor: Yet you still believe in Him?
    Student : Yes.
    Professor : According to Empirical, Testable, Demonstrable Protocol, Science says your GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?
    Student : Nothing. I only have my faith.
    Professor: Yes, faith. And that is the problem Science has.
    Student : Professor, is there such a thing as heat?
    Professor: Yes.
    Student : And is there such a thing as cold?
    Professor: Yes.
    Student : No, sir. There isn’t.
    (The lecture theater became very quiet with this turn of events.)
    Student : Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat, mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have anything called cold. We can hit 458 degrees below zero which is no heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as cold. Cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.
    (There was pin-drop silence in the lecture theater.)
    Student : What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?
    Professor: Yes. What is night if there isn’t darkness?
    Student : You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light. But if you have no light constantly, you have nothing and its called darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it is, well you would be able to make darkness darker, wouldn’t you?
    Professor: So what is the point you are making, young man ?
    Student : Sir, my point is your philosophical premise is flawed.
    Professor: Flawed ? Can you explain how?
    Student : Sir, you are working on the premise of duality. You argue there is life and then there is death, a good GOD and a bad GOD. You are viewing the concept of GOD as something finite, something we can measure. Sir, Science can’t even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life: just the absence of it. Now tell me, Professor, do you teach your students that they evolved from a monkey?
    Professor: If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.
    Student : Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?
    (The Professor shook his head with a smile, beginning to realize where the argument was going.)
    Student : Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor. Are you not teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a preacher?
    (The class was in uproar.)
    Student : Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?
    (The class broke out into laughter. )
    Student : Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain, felt it, touched or smelt it? No one appears to have done so. So, according to the established Rules of Empirical, Stable, Demonstrable Protocol, Science says that you have no brain, sir. With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?
    (The room was silent. The Professor stared at the student, his face unfathomable.)
    Professor: I guess you’ll have to take them on faith, son.
    Student : That is it sir … Exactly ! The link between man & GOD is FAITH. That is all that keeps things alive and moving.
    Shared on my Timeline. February 11, 2013. 07.55 am, GMT +7. Jakarta, Indonesia.
avatar_128
 
 
Allah's servant. Muhammad's follower. Quran & hadist learner. #IndonesiaTanpaJIL
 
 

Following

thismelinaparodimetaforaazizahalaziziloveunitedlatelullabythevisionofislamriseismzozabrizkiefrizkianaameliamelainafikrianiyakaliiielsukmadienbeautiful-phrasesgadisberjilbabindtanpajilqomaruzzamanmynameiscestyoktaviandarestadhimasimanpratamafacepaper
 

Tumblr